oleh

Moment HARKITNAS “Membangun Keunggulan Kompetitif Berlandaskan Persatuan”

-Polhukam-19.061 views

Jakarta – Deklarator Youth Movement Institute (YMI) Tanggon NM menyebut momentum hari kebangkitan nasional (Harkitnas) yang jatuh 20 Mei 1908, saatnya membangun keunggulan kompetitif berlandaskan persatuan.

“Berkaitan dengan banyaknya fakta memudarnya nasionalisme generasi muda, maka diperlukan penanaman nilai-nilai karakter dan semangat nasionalisme yang dimulai dari peran keluarga, peran pendidikan, dan peran pemerintah,” tegas Tanggon, hari ini.

Menurut dia, ideologi nasionalisme itu bersumber pada mainstream persatuan dan kesatuan. Di Indonesia, nasionalisme melahirkan Pancasila sebagai ideologi negara. Dia pun mengutip kata-kata bung tomo: “Andai tak ada TAKBIR, saya tidak tahu dengan cara apa membakar semangat pemuda untuk melawan PENJAJAH”.

“Semoga kita sebagai genarasi yang hidup hari ini bisa membangkitkan api nasionalisme di hati kita masing-masing,” jelasnya.

Dijelaskannya, tanggal 20 Mei 1908, berdirinya Boedi Oetomo, dijadikan sebagai Hari Kebangkitan Nasional. Boedi Oetomo didirikan oleh Dr. Sutomo dan para mahasiswa STOVIA yaitu Goenawan Mangoenkoesoemo dan Soeraji. Boedi Oetomo digagas Dr. Wahidin Sudirohusodo. Pada awalnya Boedi Oetomo bersifat sosial, ekonomi, dan kebudayaan bukan bersifat politik. Boedi Oetomo menjadi awal gerakan yang bertujuan kemerdekaan Indonesia.

Masih kata dia, 20 Mei diperingati sebagai Hari Kebangkitan Nasional. Sungguh sangat khidmat sekali bulan mei yang mengandung berbagai peristiwa sejarah bangsa ini.

“Apabila tidak dimaknai secara tepat dan benar, maka esensi nilai yang terkandung di dalam peristiwa tersebut akan sirna, karena tersandera oleh perayaan seremonial saja bukan peringatan penuh makna,” sebutnya.

Dia melanjutkan berkembangnya medsos hari ini yang di gandrungi generasi muda terkadang membuat kondisi riil dalam kehidupan sehari-hari bertebaran berita palsu di media sosial. Sehingga mempengaruhi pandangan yang berbeda-beda. Hasilnya masing-masing mengambil sikap politik berbeda, berujung pada perdebatan tajam dan terkadang memecah belah.

“Sudah banyak sekali yang mengalami konflik macam ini. Berantem betulan, sampai putus hubungan, hanya gara-gara postingan atau kabar di medsos. Tentu sebagian orang jadi mikir,” kata dia.

Kata Tanggon, internet seharusnya memberi kemudahan karena informasi sedemikian melimpah tersaji dengan cepat di tangan, serta mempermudah dan mendekatkan komunikasi dengan mereka yang terpisah jarak. Faktanya, yang lebih sering terjadi, banjir informasi justru makin memperlebar jurang perbedaan antar manusia. Lebih-lebih di Indonesia beberapa tahun belakangan.

“Jadi, apa yang harus kita lakukan dalam kondisi bangsa yang makin terpecah belah seperti sekarang? Haruskah kita ikut serta ngotot mempertahankan sikap politik pribadi dengan risiko kehilangan hubungan pertemanan? Atau masih mungkinkah kita duduk semeja,” tuturnya.

Disebutkannya, momen bersejarah hanya akan menjadi euforia sesaat saja tanpa adanya keberlangsungan aplikasi nilai yang disampaikan oleh peristiwa itu pada masyarakat Indonesia di era kekinian, khususnya generasi muda bangsa.
Alangkah jauh lebih baik jika sama-sama menyatukan segenap kemampuan yang di miliki demi kemajuan negeri ini.

“perlu adanya redefinisi atas pemahaman dan pelaksanaan nilai-nilai nasionalisme dalam diri pemuda Indonesia,” tambah dia.

Dikatakan Tanggon, tantangan pemuda saat ini berbeda dengan era tahun 1928 atau 1945. Jika dulu nasionalisme pemuda diarahkan untuk melawan penjajahan, kini nasionalisme diposisikan secara proporsional dalam menyikapi kepentingan pasar yang diusung kepentingan global, dan nasionalisme yang diusung untuk kepentingan negara. Dengan demikian peran orang tua masih sangat mendominasi segala sector kehidupan berbangsa dan bernegara.

“Nasionalisme harus didefinisikan sebagai suatu upaya untuk membangun keunggulan kompetitif, dan tidak lagi didefinisikan sebagai upaya untuk menutup diri dari pihak asing seperti proteksi atau semangat anti semua yang berbau asing. Nasionalisme harus dilengkapi dengan sikap profesionalisme,” pungkasnya.

Komentar

News Feed