Aksi 20 & 21 Mei, Habib Syakur: Gerakan yang Kontra Produktif Dibalut Narasi Pelengseran Jokowi

Berita Utama1,001 views

JAKARTA – Inisiator Gerakan Nurani Kebangsaan (GNK), Habib Syakur Ali Mahdi Al Hamid mengatakan bahwa 20 Mei dan 21 Mei bisa menjadi momentum yang patut diperingati sebagai hari bersejarah bagi Indonesia. Hal ini karena pada tanggal tersebut menjadi momentum berdirinya organisasi pergerakan pertama bernama Budi Utomo dan Peringatan Reformasi.

“Jika dimaknai sebagai refleksi, tentu momentum baik ya menurut saya. Kita bisa kembali menyerap ruh semangat perjuangan untuk mengisi kemerdekaan ini dengan hal-hal yang positif dan membangun,” kata Habib Syakur kepada wartawan, Minggu (19/5).

Namun ia mengingatkan bahwa momentum 20 dan 21 Mei bisa juga dijadikan ajang untuk melakukan gerakan yang kontra produktif, seperti melakukan gerakan massa untuk menumbangkan pemerintahan yang sah dengan dalih perjuangan rakyat.

“Kan biasanya begitu, momentum semacam ini dijadikan tanggal cantik untuk melakukan demo-demo yang tidak berfaedah. Melakukan propaganda bahwa pemerintahan saat ini harus ditumbangkan dan sebagainya,” ujarnya.

Gerakan-gerakan semacam ini kata Habib Syakur harus disikapi dan dibendung, agar tidak menjadi gerakan yang seolah-olah terlegitimiasi.

“Jangan sampai, semua harus mengantisipasi. Karena sampai saat ini pemerintahan Pak Jokowi baik-baik saja,” tutur Habib Syakur.

Analis sosial politik dari Malang Raya ini mengatakan bahwa memang masih ada saja pekerjaan rumah yang perlu diselesaikan di pemerintahan Presiden Jokowi setidaknya hingga akhir masa jabatannya di bulan Oktober 2024. Namun demikian, tidak bisa menjadi alasan bagi gerakan sosial manapun untuk melakukan upaya pelengseran Presiden.

Oleh sebab itu, ia meminta semua komponen bangsa dan organisasi kemasyarakatan untuk tetap merawat persatuan dan kesatuan agar pemerintahan Jokowi Ma’ruf bisa menuntaskan masa kepemimpinan mereka dengan sangat baik. Sehingga apa yang menjadi peninggalan pemerintahan di Kabinet Indonesia Maju tersebut bisa diteruskan dengan lebih baik lagi oleh pemerintahan Prabowo Gibran yang terpilih sebagai pasangan Presiden dan Wakil Presiden periode 2024-2029 hasil Pilpres kemarin.

“Kalau semua melakukan tantrum massal seperti gerakan-gerakan yang akan terjadi di momentum 20 & 21 Mei nanti, apalagi dengan narasi pelengseran pemerintah, ya Indonesia tidak akan baik-baik saja,” tukasnya.

“Kontrol sosial kan bisa dilakukan dengan cara yang lebih arif dan bijaksana. Tidak dengan menggalang gerakan untuk mendelegitimasi pemerintahan yang sah, apalagi di momentum akhir periode kepemimpinan seperti saat ini,” lanjutnya.

Sehingga, Habib Syakur juga meminta semua elemen aparat keamanan untuk melakukan deteksi dini terhadap semua hal yang berpotensi melakukan gangguan kamtibmas di wilayah masing-masing, khususnya di jantung pemerintahan yakni di Jakarta.

“Deteksi dini penting, jangan sampai keburu meletus. Karena gerakan-gerakan perusak demokrasi dan pengganggu pemerintahan ini akan terjadi kalau ada pembiaran, baik sengaja atau ketidaksengajaan,” pungkasnya.

Komentar