Sambut Pemilu, Lesbumi NU : Ibaratnya Sepakbola, Selesai ya Selesai! Pendukung Jadilah Penonton yang Baik

Berita Utama273 views

Jakarta – Pengurus Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (Lesbumi PBNU) berpesan kepada para pendukung Paslon Capres Cawapres untuk bisa menerima kenyataan terkait hasil Pemilu 2024 nantinya.

“Bagi para pendukung paslon-paslon yang anda dukung sekuat-kuatnya tapi terima kenyataan seikhlas-ikhlasny. Itu saja pesan saya, karena hanya dengan cara itu sebuah kompetisi akan bisa berjalan dengan baik, hal-hal yang tejadi di dalam lapangan tidak bisa dibawa dan diteruskan di luar lapangan,” sebut Wakil Pengurus Lesbumi NU Ngatawi Al Zastrouw, hari ini.

Dia pun mengibaratkan pemilu 2024 bak permainan sepak bola. Yakni dimana ada tak-tik, benturan antar pemain, dan setelah pertandingan para penontonnya bisa bersikap baik.

“Jadi kalau permainan sepak bola itu sudah selesai, biarpun ada gapres’an, ada sliding tackle, ada tabrakan, ada benturan itu ya cukup di lapangan itu. Begitu permainan selesai ya semua selesai. Penontonnya nggak usah ada yang sampai nginep di stadion kemudian bikin kerusakan gara-gara kalah. Supaya kita bisa enjoy jadi penonton yang baik. Jadi seluruh perangkat yang yang bisa menjalankan amanahnya dengan baik, itu harapan kita,” jelasnya.

Ngatawi Al Zastrouw menegaskan bahwa Lesbumi PBNU berharap kepada Presiden dan Wakil Presiden terpilih nantinya memiliki konsen yang lebih terhadap kebudayaan. Karena terus terang sejak merdeka sampai sekarang Pemerintah Indonesia belum punya strategi kebudayaan yang efektif, akurat dalam rangka pembangunan bangsa.

Bahkan, kata dia, ada proses pendegradasian dan penciutan kebudayaan hanya pada urusan kesenian, sehingga ketika ada istilah kebudayaan, festival kebudayaan, keterampilan kebudayaan atau pentas budaya itu yang dipentaskan kesenian.

“Padahal kebudayaan adalah lebih dari itu, karena kita nggak memiliki suatu roadmap strategi kebudayaan yang baik. Akhirnya bangsa ini bisa berjalan tanpa panduan daya yang jelas dan tambah lebih lanjut kita mengalami defisit tradisi dan degradasi budaya,” tukasnya.

Komentar