oleh

Dibalik Kehebohan Petisi 28, Masyarakat Harus Bijak Jangan Telan Mentah & Jangan Terprovokasi

JAKARTA – Bukan Petisi 28 namanya jika tak bikin heboh didunia perpolitikan tanah air. Pasalnya, setiap kali ada momen politik besar, Petisi 28 selalu muncul. Kadang muncul dengan mengirimkan petisi, sesuai namanya, diskusi atau bahkan demonstrasi.

Beberapa waktu terakhir ini, Petisi 28 yang di pentolani Haris Rusly Moti bersama elemen lainnya Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Kesehatan, Indonesian Audit Watch (IAW) dan Institut Ekonomi Politik Soekarno Hatta menghiasi berita dengan desakan usut tuntas audit bisnis PCR yang diduga oleh 2 Menteri Presiden Jokowi.

Pengamat media sosial (medsos), Rulli Nasrullah memandang penting mewaspadai disinformasi yang bertujuan memprovokasi massa.

Disinformasi tersebut, kata dosen Magister Ilmu Komunikasi di IISIP Jakarta itu, dilakukan dengan cara memotong-motong berita atau fakta yang ada, kemudian ditambahkan narasi tertentu.

Untuk itu, masyarakat harus bijak dan tidak terburu-buru menelan informasi yang ada,” kata Rulli Nasrullah.

“Saya pikir memang perlu kebijaksanaan yang luar biasa untuk menyikapi realitas yang ada di medsos. Karena biasanya yang memprovokasi itu sering memotong-motong realitas yang ada, jadi tidak secara utuh informasi itu disampaikan,” tambah dia.

Menurut Rulli, salah satu hal penting dalam menggunakan media sosial adalah emosi yang terkendali. Pasalnya, emosi merupakan salah satu hal yang dimainkan para provokator dan menjadi penyebab berkembangnya hoaks, radikalisme, dan terorisme di medsos. Ketika melihat sebuah foto atau sebuah pernyataan, lanjut dia, jangan buru-buru langsung ditafsirkan.

“Kita tunggu dahulu, ditanyakan dahulu kepada orang yang lebih ahli sehingga kita bisa melihat konten itu sebenarnya maksudnya seperti apa. Saya melihat ini yang dimainkan oleh pihak-pihak ketiga yang tidak bertanggung jawab untuk memainkan isu-isu seperti itu,” tutur Rulli.

Menanggapi seruan elemen Petisi 28 dkk tersebut, Ketua GP Ansor Rahmat Hidayat Pulungan meminta masyarakat tidak terprovokasi mengenai dugaan pejabat terlibat bisnis tes PCR. Dia berharap Menteri BUMN Erick Thohir tetap fokus bekerja membantu rakyat.

Dia menilai pihak yang melaporkan Erick Thohir ke KPK terkait tuduhan terlibat bisnis alat tes PCR melalui PT Genomik Solidaritas Indonesia (GSI) dilandasi rasa iri atas capaian menteri BUMN itu.

“Saya ingatkan ini merujuk istilah orang kampung itu yang namanya emas mau di mana pun tetap emas, kalau buang di sungai tetap diperebutkan,” ujarnya lagi.

Komentar

News Feed