oleh

Iti Sebut Keterwakilan Perempuan di Pemkab Lebak Kurang

Berkeadilan.com – Bupati Lebak Iti Octavia Jayabaya mengatakan indeks pembangunan gender di Kabupaten Lebak meningkat setiap tahunnya, meskipun tidak signifikan. Hal itu disampaikannya saat menjadi pembicara utama dalam ‘Seminar Nasional Komunikasi Inklusif Gender dalam Pemerataan Kesehatan’, pada Sabtu (16/10/2021). Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lebak mencatat, indeks pembangunan gender di Kabupaten Lebak sebesar 79,81 pada tahun 2020. Meningkat dibanding tahun 2017 sebesar 78,56, pada tahun 2018 sebesar 79,26, dan pada tahun 2019 sebesar 79,63.

Sebagai bentuk komitmen, Pemkab Lebak sudah mengeluarkan beberapa regulasi mengenai pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak di Kabupaten Lebak. Regulasi-regulasi tersebut tertuang dalam enam Peraturan Daerah (Perda), enam Peraturan Bupati, 14 Keputusan Bupati, dan dua Surat Edaran Bupati.

“(bentuk komitmen) tadi itu membentuk pokja, kemudian tim evaluasi, tim monev, dan sebagainya. Terus juga kita berupaya mensinergiskan dengan pemerintahan desa, baik itu (dengan pembentukan) desa layak anak, kampung KB,” tutur Iti.

Iti mengklaim, hampir semua Organisasi Perangkat Daerah (OPD) Kabupaten Lebak memiliki fasilitator pengarusutamaan gender (PUG) yang responsif gender. Ia mencontohkan, Dinas Ketahanan Pangan yang memberdayakan kelompok wanita tani (KWT), Dinas Pertanian melalui beberapa gabungan kelompok tani (Gapoktan), dan tenaga medis yang didominasi bidan atau perawat.

“Tenaga terlatih untuk penanganan korban kekerasan terhadap perempuan dan anak, alhamdulillah, ada tenaga medis, tenaga pendamping hukum, tenaga konselor, dan tenaga pelayanan lainnya. Termasuk dalam tenaga pelayanan lainnya itu adalah relawan-relawan,” ungkapnya.

Pemkab Lebak mencatatkan, anggaran untuk Responsive Gender pada tahun 2020 sekitar Rp904 juta, menurun dibandingkan pada tahun 2019 sebesar Rp1,1 miliar akibat refocusing.

“Anggarannya menurun, tapi tidak mengurangi target-target kinerja kita. Jadi, semangatnya bekerja dengan hati. Yang tadinya dapet honor, sekarang berkurang honornya, ya tetep aja (dikerjakan) gitu,” ujarnya.

Lebih lanjut Iti memaparkan, data terpilah gender pada tahun 2020 mencatat jumlah Pegawai negeri Sipil (PNS) di Kabupaten Lebak sebanyak 4.818 laki-laki dan 4.335 perempuan.

Sedangkan, jumlah pejabat Eselon II di Kabupaten Lebak sebanyak 34 laki-laki dan 3 perempuan, pejabat Eselon III sebanyak 162 laki-laki dan 30 perempuan, pejabat Eselon IV sebanyak 429 laki-laki dan 173 perempuan, serta staf/pelaksana sebanyak 1.541 laki-laki dan 890 perempuan.

“Jadi, masih kurang sebenarnya (keterwakilanan) perempuannya ini makanya harus meningkatkan kompetensinya. Ada, misalnya, pejabat struktural, golongannya sudah cukup, tetapi dari segi pendidikannya yang belum memadai. Yang ini akhirnya tidak bisa mengisi (posisi) tadi itu,” aku Iti.

Iti menambahkan, Kabupaten Lebak masih memiliki pekerjaan rumah terkait keterwakilan perempuan di legislatif. Diketahui, perempuan yang mewakili di legislatif hanya sebanyak 5 orang. Termasuk jumlah Kepala Desa/Lurah sebanyak 14 perempuan saja, dari total sebanyak 345 Kepala Desa.

“Kalaupun Bupatinya perempuan, tetapi ini tidak sebanding dengan keterwakilan perempuan di legislatif. Jadi, perempuannya baru 5 orang di DPRD ini. Tugas kita memberikan pemahaman kepada masyarakat di bidang apapun bahwa perempuan punya kesempatan yang sama juga,” katanya.

Terakhir, Iti mengajak untuk seluruh perempuan untuk berdaya saing dengan meningkatkan kompetensi, menggali potensi, dan dukungan lingkungan sekitar. Sehingga perempuan memiliki kesempatan yang sama dengan laki-laki tanpa adanya diskriminasi.

“Jadi, tidak ada perempuan pemahamannya adalah di daerah domestik saja. Tetapi, perempuan adalah tiangnya agama, yang punya kontribusi yang besar juga di dalam pembangunan,” pungkasnya.

Sebelumnya, Program studi (Prodi) Magister Ilmu Komunikasi Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta) menggelar ‘Seminar Nasional Komunikasi Inklusif Gender dalam Pemerataan Kesehatan’. Seminar ini digelar dalam rangka meningkatkan wawasan yang sensitif gender, meningkatkan pembangunan bidang kesehatan, serta membuka jaringan dan kolaborasi lembaga akademik dengan lembaga lainnya.

Seminar yang digelar secara virtual ini, menghadirkan Bupati Lebak, Iti Octavia Jayabaya, sebagai pembicara utama. Serta narasumber ahli lainnya, seperti anggota Komisi V DPRD Banten Ria Mahdia Fitri, Irawan Prayoga dari Subdit Komunikasi dan Informasi Kesehatan Kementerian Komunikasi dan Informatika, dan Elma Adisya selaku Multimedia Konten Kreator Magdalena.co. (Red)

Komentar

News Feed