oleh

Mengukir Akhir Hidup yang Pantas

Oleh : Weinata Sairin

Mengakhiri Hidup dengan Pantas
”Ille quidem dignum virtutibus suis vitae terminum. Dia mengakhiri hidupnya dengan kehidupan yang pantas.”

Hidup manusia dalam perspektif agama-agama adalah menyusuri garis linier yang membentang dari tonggak A menuju tonggak Z.

Rentang waktu A–Z ini adalah rentang standar dengan mengacu kepada urutan abjad sebagaimana yang kita kenal. Bisa saja ada orang yang tidak sampai mencapai Z; mungkin hanya sampai di D, E, atau F, dan seterusnya. Dalam bahasa sekuler, itu tergantung sponsor! Dalam bahasa agama, kurun waktu yang bisa dicapai seseorang amat tergantung pada hak prerogatif Allah, pada rencana keselamatan dan Kasih-Nya kepada manusia.

Sejak lama, negara ini mengenal program pembangunan, ada yang dinamakan ”Pembangunan Semesta Berencana”. Agama-agama selalu mengingatkan agar manusia menjadi tokoh sentral dalam pembangunan.

Artinya, manusia sebagai makhluk ciptaan yang mulia tidak disisihkan dari program pembangunan, bahkan manusia jangan menjadi korban dari pem­bangunan. Itulah sebabnya, dalam kamus pembangunan kemudian di￾populerkan istilah ”pembangunan manusia seutuhnya”. Jargon itu dimaksudkan agar pembangunan itu tidak hanya mem￾produksi gedung-gedung pencakar langit, tetapi juga memperhatikan pembangunan mental spiritual manusia. Kita patut bersyukur karena pada Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) atau dokumen Nawacita peran strategis manusia amat diperhitungkan.

Dalam RPJMN 2005–2025 ditegaskan bahwa ”pembangunan manusia pada intinya adalah pembangunan manusia seutuhnya. Tantangan yang dihadapi dalam pembangunan agama adalah mengaplikasikan ajaran agama dalam kehidupan sehari-hari, mewujudkan kerukunan intern dan antarumat beragama serta memberikan rasa aman dan perlindungan dari tindak kekerasan”.

Dalam Nawacita (= ’Sembilan Harapan’), yaitu program Presiden periode ini, program peningkatan kualitas manusia termasuk dalam cita kelima, yang dilaksanakan melalui pembangunan di sektor pendidikan.

Perhatian pada sosok manusia dalam program pembangunan seharusnya makin meningkatkan kualitas manusia sehingga ia mampu menjawab tan￾tangan zamannya.

Pembangunan manusia seutuhnya sejak zaman pra-GBHN, zaman GBHN, dan pasca-GBHN menjadi tema utama dalam pelaksanaan program pembangunan bangsa. Pembangunan mental-spiritual, pembangunan bidang keagamaan yang telah dilaksanakan sejak tahun ’60-an telah melahirkan sosok manusia, yang juga hingga kini kita alami realitasnya dalam kehidupan praktis. Ada orang-orang yang sukses di zamannya sebagai ”hasil”
dari program pembangunan tersebut, tetapi banyak juga yang menghasilkan sosok koruptor dan para penjahat dalam berbagai aspek kehidupan.

Memang, realitas manusia Indonesia masa kini yang acap terkena OTT (Operasi Tangkap Tangan), masuk penjara, menjadi pembunuh sadis, dsb.,
tidak semata-mata akibat ”ideologi pembangunan” tetapi ada banyak faktor di belakangnya.

Hal yang harus digarisbawahi adalah bagaimana proses pembinaan spiritual dalam keluarga. Apakah aktivitas keagamaan dalam setiap rumah tangga berjalan lancar? Masihkah tersedia waktu bagi setiap rumah tangga untuk melakukan ibadah di keluarga secara bersama setiap malam?.

Ada banyak anggota keluarga muda yang baru pulang dari kantor setiap hari di atas pukul 20.00, sehingga tidak lagi tersedia waktu baginya untuk ikut dalam ibadah bersama yang biasanya dilakukan dalam setiap rumah tangga, atau ibadah yang dilakukan antarrumah tangga di suatu wilayah. Realitas ini mengharuskan pimpinan komunitas keagamaan mencari pola-pola dan pendekatan baru agar pembinaan terhadap umat bisa berjalan dengan baik.

Pembinaan spiritual, baik oleh keluarga maupun oleh lembaga/komunitas keagamaan mesti berlangsung kontinu, terarah, dan terencana.
Setiap lembaga/komunitas keagamaan memiliki cara dan program sendiri dalam hubungan dengan pembinaan spiritualitas itu. Ibadah dalam Keluarga/Rumah Tangga, ibadah antarkeluarga dan ibadah dalam rumah ibadah harus menjadi aktivitas rutin setiap warga bangsa, apa pun agama mereka. Tempat ibadah, sebagai pusat pembinaan spiritual, mesti difasilitasi pembangunannya oleh pemerintah/pemda.

Dengan terwujudnya pembinaan spiritual bagi setiap manusia secara terus-menerus diharapkan seseorang akan tangguh imannya dan mampu menolak segala tantangan yang dihadapi dalam hidupnya, dan hingga akhir hayat ia menjadi orang yang baik, yang patut diteladani.

Di kalangan saudara-saudara Muslim dikenal istilah ”khusnul khotimah” (= ’mengakhiri hidup dalam keadaan beriman’; ’akhir kehidupan yang baik’). Setiap umat beragama pada masa-masa akhir kehidupannya harus lebih dekat kepada Tuhan, lebih banyak berbuat baik, dan beriman sampai akhir hayat.

Setiap umat beragama pada akhir hayatnya harus bisa berkata seperti Rasul Paulus ini, tetapi dengan tetap rendah hati: ”Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman” (2 Timotius 4:7). Pepatah kita mengingatkan agar kita mengakhiri hidup ini dengan kehidupan yang ”pantas”! Mari renungkan dan lakukan!.

Pandemi yang mendera takboleh membuat kita terpenjara, kehilangan harapan tapi justru mendorong kita untuk makin tekun mengukir kehidupan yang makin baik, agar akhir kehidupan yang pantas bisa kita wujudkan.

Selamat Berjuang. God Bless!

Komentar

News Feed