oleh

Waspada Bahaya Limbah Medis Covid-19, Anggota DPR RI Nur’aeni Ajak Masyarakat Lebih Peduli

SERANG, Berkeadilan.com – Bertambahnya kasus jumlah pasien COVID-19 yang menjalani perawatan di rumah sakit membuat kegiatan pemeriksaan pasien juga semakin banyak, dengan demikian limbah atau sampah medis pun otomatis. Belum lagi, sampah medis seperti masker yang dibuang masyarakat.

Kekhawatiran pun muncul berkenaan dengan pengelolaan limbah medis. Sebab, jika tidak dikelola dengan baik, limbah medis dari penanganan pasien dengan penyakit menular dikhawatirkan menjadi sumber penularan penyakit bagi pasien, petugas, dan masyarakat sekitar.

Sebagai daerah yang juga terdampak penyebaran covid-19, penanganan limbah medis covid-19 mendapat perhatian serius dari banyak pihak, salah satunya Anggota Komisi IV DPR RI, Nur’aeni. Menurut Nuraeni, penanganan sampah medis seperti masker bekas pakai perlu menjadi perhatian, terutama masyarakat sebagai pengguna masker untuk tidak membuang sembarangan masker sekali pakai.

Misalnya, masyarakat terbiasa memisahkan sampah medis dengan sampah rumah tangga biasa, atau memisahkan menggunting tali masker saat hendak dibuang. Langkah ini dilakukan untuk mengantisipasi oknum yang mendaur ulang masker bekas pakai.

“Semangat yang dibangun baik pusat maupun daerah memberikan nilai positif serta rasa aman dan nyaman bagi masyarakat, bahwa masyarakat juga diajak untuk peduli terhadap sampah infeksius, misalnya membuang masker secara benar,” papar Nur’aeni saat menjadi narasumber dalam webinar Sosialisasi Penanganan Limbah B3 Infeksius Covid-19 di Provinsi Banten yang disiarkan secara LIVE di akun youtube dan fanpage sultantv.co, Rabu (10/6), Kota Serang, Banten.

Dalam kesempatan tersebut, Direktorat Jenderal Pengelolaan Sampah, Limbah, dan B3 Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI menyerahkan bantuan kepada RSUD Banten berupa drop box limbah B3 fasyankes, plastik pengumpul limbah B3 fasyankes, dan APD petugas pengelola limbah B3 fasyankes.

Dalam webinar tersebut, Nur’aeni juga menghimbau kepada Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) untuk hati-hati mengimpor sampah, terutama sampah yang bersumber dari sampah ifeksius B3. “Masyarakat perlu tahu seberapa bahaya limbah infeksius ini, kesadaran ini perlu di bangun di tengah-tengah masyarakat,” ujarnya.

Terkait penangan limbah infeksius covid-19 di Provinsi Banten, Direktur RSUD Banten Danang Hamsah Nugroho memaparkan, pemusnahan limbah medis B3 covid-19 di Banten diserahkan kepada pihak ketiga. Alat-alat medis seperti Alat Pelindung Diri (APD), alat makan, masker, dimusnahkan. Dalam perbulan, sampah medis covid-19 di Banten mencapai 1 ton lebih.

“Protokol penanganan limbah medis sudah sesuai standar. Misalnya limbah-limbah medis sebelum dibuang dibungkus secara rapi dan dilapis,” jelasnya.

Sementara itu, Direktur Pengelolaan Sampah PSLB3, Novrizal Tahar berpendapat, sosialisasi penanganan sampah medis yang digagas oleh Komisi IV DPR RI melalui Nur’eni sangat penting pengaruhnya bagi masyarakat luas. Menurutnya, ada sisi positif yang bisa diambil dari kasus pandemi tersebut, yakni semakin peduli terhadap limbah medis yang berbahaya.

Tak hanya itu, perubahan perilaku yang massif seperti masyarakat tinggal di rumah dan mengurangi penggunaan kendaraan selama pandemi membawa dampak positif seperti kualitas emisi rumah kaca turun 17 persen, sampah yang dibuang ke Tempat Pembuangan Akhir (TPS) sampah berkurang.

Terkait limbah medis covid-19, kata Novrizal, persoalan limbah medis menjadi masalah serius semua pihak agar tidak menjadi masalah baru “Harus diakui, pengolahan limbah medis B3 masih belum ideal. Kapasitas pengelolaan sampah medis yang ada belum sebanding dengan rumah sakit,” jelasnya.

Surat edaran yang dikeluarkan Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) nomor 2 tahun 2020 terkait pengelolaan limbah infeksius (B3) dan sampah rumah tangga untuk penanganan virus korona (covid-19), menurut Novrizal merupakan terobosan strategis dalam menangani pengelolaan sampah medis covid-19.

Edward Nixon Pakpahan (Kasubdit Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Republik Indonesia mengatakan, strategi penanganan KLHK akan yang akan dilakukan diantaranya membangun tempat pembakaran menggunakan insinerator. Insinerator yang tersebar agar dapat lebih banyak memproses limbah medis yang berbahaya. “Harapannya ini (insinerator) bisa dibangun di semua provinsi, termasuk di Banten,” katanya.[]

Komentar

News Feed