oleh

‘Wanita Emas’ ini Kritik Cara Anies Menangani Corona

Jakarta, Berkeadilan.com — Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan kembali mengingatkan masyarakat untuk disiplin melaksanakan social distancing selama mewabahnya virus corona di Ibu Kota, Senin (30/3/2020). Sebab, menurutnya cukup banyak orang-orang yang meninggal diduga dan akibat covid-19.

Pernyataan Anies dikritik ‘Wanita Emas’ atau Hasnaeni. Mantan calon gubernur DKI Jakarta itu menilai perkataan Anies bukan solusi menyeluruh dalam penanganan corona. Karena, hanya meminta warga tak beraktivitas di luar rumah, tapi tidak memikirkan kebutuhan hidup mereka.

Padahal, menurut Hasnaeni ada warga yang berprofesi sebagai pekerja harian atau pekerja informal. Mereka hanya bisa hidup atau memenuhi kebutuhan hidupnya dan keluarga, apabila keluar rumah serta meraih pendapatan setiap harinya.

“Seharusnya sebagai gubernur jangan cuma memberikan imbauan-imbauan. Jangan hanya menyuruh masyarakat Jakarta berdiam diri di rumah. Sedangkan mereka membutuhkan makan untuk mengisi perutnya,” ujar Hasnaeni dalam keterangannya, Selasa (30/3/2020).

Menurut dia, Anies sebagai pemimpin tertinggi di Jakarta bisa berbuat lebih banyak dibanding sebatas mengimbau dan menyampaikan kondisi yang mengkhawatirkan mengenai wabah corona di Ibu Kota.

Apalagi, Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta memiliki anggaran yang tak sedikit, jika hanya untuk dipakai membantu atau mensubsidi warga miskin dan masyarakat yang membutuhkan.

“APBD DKI untuk tahun 2020 itu Rp 87 triliun hampir Rp 90 triliun lho. Sebenarnya kalau niat membantu masyarakat yang membutuhkan sudah cukup itu pakai APBD, bahkan Pemprov hanya keluar sedikit uang,” papar Hasnaeni.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), warga miskin di Jakarta per September 2019 mencapai 362 ribu orang. Jika mereka diminta Pemprov untuk tetap tinggal di rumah dan kehidupannya sementara ditanggung, menurut Hasnaeni tak bakal membuat jebol APBD.

“Misalnya kalau disubsidi Rp 2 juta per bulan saja hanya menghabiskan Rp 724 miliar,” jelasnya.

Di kondisi terburuk sekalipun, kata Hasnaeni uang Pemprov takkan habis jika digunakan untuk membantu masyarakat.

“Misalnya kemungkinan terburuk wabah ini berlangsung tiga bulan. Hanya menghabiskan Rp 2,1 sekian triliun, masih sisa banyak itu APBD,” tuturnya.

Hasnaeni berpandangan, saat ini yang dibutuhkan untuk membantu warga Jakarta menghadapi wabah virus yang pertama kali ditemukan di Wuhan, China itu bukan hanya sekadar pidato dan retorika semu dari pemerintah daerah. Apalagi hanya ‘menakut-nakuti’. Tapi niat, keseriusan dan kerja nyata.

“Kalau memang niat mengakhiri wabah ini ya subsidi dong masyarakat biar tetap di rumah, perutnya kenyang, nggak perlu keluar cari uang,” jelas Hasnaeni.

“Kalau cuma pintar berpidato, semua orang bisa. Tapi bagaimana seorang pemimpin menyelesaikan persoalan-persoalan yang dihadapi masyarakat secara tuntas,” sambungnya. (Ist)

Komentar

News Feed