oleh

Kominfo : Posting Yang Penting, Jangan Yang Penting Posting

-Polhukam-8.745 views

Berkeadilan.com – Hoaks dan ujaran kebencian serta fitnah di jagat media sosial masih banyak beredar, apalagi terkait dengan konten politik dan sosial.

Staf Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo), Tomi menyampaikan, bahwa pergerakan hoaks di sosial media lebih banyak karena pengaruh share bait.

“Kenapa hoaks gampang disebar, orang bukan hanya lagi clickbait tapi sudah sharebait. Orang nggak baca isi beritanya hanya baca judul. Kadang judul dicapture atau judul diganti dan dishare begitu saja dan viral, padahal kadang kalau diklik juga nggak ada isinya,” kata Tomi dalam diskusi publik dengan tema “Mewaspadai Hoaks dan SARA Jelang Pelaksanaan Pilkada Serentak 2020” di Hotel Sofyan, Jl Dr Soepomo Nomor 23, Tebet, Jakarta Selatan, Selasa (18/2/2020).

Kemudian menurutnya, Indonesia sendiri merupakan masyarakat yang cenderung memiliki tingkat literasi yang rendah.

“Indonesia paling malas membaca. Tapi kalau baca sosmed paling aktif, itulah polanya,” ujarnya.

Dan kondisi inilah kata Tomi, justru menjadi sasaran empuk bagi para pihak yang memiliki tujuan tertentu untuk menggiring opini masyarakat tersebut sehingga mengamini apa yang ditargetkan.

“Dan celah itu yang dimanfaatkan oleh oknum-oknum yang nggak bertanggungjawab,” pungkasnya.

Di sisi lain, Tomi juga menyampaikan bahwa era post truth juga menjadi salah satu penyumbang konten hoaks dan isu SARA dalam sosial media juga terjadi. Dimana orang akan melakukan tindakan seporadis ketika mendapatkan informasi yang menguntungkan pihak yang didukungnya secara politik apalagi berpotensi mendelegitimasi lawan politik orang yang didukung tersebut.

“Post truth itu lebih kita tidak lihat kebenarannya hanya karena faktor kesenangannya. Sejelek apapun beritanya walaupun benar maka dia tidak akan percaya dan begitu sebaliknya,” tuturnya.

Oleh karena itu, yang menjadi target propaganda pihak-pihak yang ingin mengambil keuntungan dari kondisi post truth ini adalah emosi target mereka.

“Yabg dimainkan adalah emosioal kita bukan kebenaran beritanya,” pungkasnya.

Lebih lanjut, Tomi menyampaikan bahwa ada 4 (empat) faktor mengapa orang-orang masih ada yang percaya dengan berita bohong alias hoaks.

“Kenapa kita percaya hoaks ?. Karena keterbatasan informasi, kemudian kepopuleran informasi tersebut, ketertarikan informasi dan kurangnya konfirmasi,” tandasnya.

Oleh karena itu pula, Tomi mengajak kepada generasi muda Indonesia dan masyarakat luas agar bijak dalam menyebar dan menerima informasi apapun di jagat internet baik di portal website maupun aplikasi sosial media.

Kemudian jangan asal menyebarkan informasi apalagi yang cenderung berpotensi menciptakan perpecahan dan pertikaian.

“Posting yang penting, jangan yang penting posting. Mari kita sama-sama bantu perangi hoaks, kita semua dan pemerintah,” tegasnya. []

Komentar

News Feed