oleh

Kivlan Zen Mengaku Dipukuli, Kejagung Berikan Klarifikasi

Berkeadilan.com – Kejaksaan Agung (Kejagung) merespons pengakuan Mayjen TNI (Purn) Kivlan Zen soal penganiayaan yang dialaminya yaitu berupa pemukulanoleh dokter dari RS Adhyaksa (RS milik Kejagung) pada September 2019. Kala itu, Kivlan tengah menjalani pemeriksaan medis.

Direktur Utama RS Adhyaksa, Dokter Diah Eko Judihartanti, membantah pernyataan Kivlan tersebut. Menurut dia, apa yang disampaikan purnawirawan TNI itu tidak benar. Diah pun membeberkan kronologi peristiwa yang menurutnya sesuai dengan fakta yang terjadi.

Kejadian itu bermula saat RS Adhyaksa menerima permintaan dari Kejaksaan Tinggi (Kejati) DKI Jakarta untuk memeriksa Kivlan. Kemudian, pihak rumah sakit mengirimkan tim kesehatan untuk memeriksa Kivlan di Rumah Tahanan (Rutan) Guntur.

“Petugas tim kesehatan yang hadir di Rutan Guntur melakukan pemeriksaan untuk ketahui apakah yang bersangkutan (Kivlan) perlu dirujuk ke rumah sakit,” kata Diah di kantor Puspenkum Kejagung, Jakarta Selatan, Jumat (31/1/2020).

Dari hasil pemeriksaan tim dokter, tak ada kondisi yang mengkhawatirkan pada Kivlan sehingga harus dirujuk ke rumah sakit. “Saat itu juga, hasil kesehatan kami terangkan kepada yang bersangkutan (Kivlan) dan kejadian berikutnya, surat keterangan itu direbut, diambil dari tangan dokter yang menerangkan pemeriksaan itu,” kata Diah.

Selanjutnya dokter yang bertugas memeriksa mencoba mengambil kembali kertas hasil catatan pemeriksaan tersebut. “Itulah kondisi yang dapat kami sampaikan. Faktanya begitu dan tak ada kejadian seperti yang diberitakan (pemukulan),”  ujarnyaujarnya.

Sebelumnya, beredar video yang diunggah akun YouTube Tazkiyah Media. Dalam video itu, Kivlan mengaku dipukul dokter dari rumah sakit kejaksaan (RS Adhyaksa) sampai jatuh tersungkur.

“Saya mau berobat bulan Agustus-September, saya enggak dikasih berobat. Sama dokternya kejaksaan saya dipukul dan terjatuh saya. Namanya Dokter Wennas dari Rumah Sakit Kejaksaan Jakarta Timur (RS Adhyaksa). Saya dipukul,” ujar Kivlan sebelum sidang putusan, pada Rabu (29/1/2020) lalu.

Tak hanya perlakuan kasar, mantan kepala staf Kostrad itu juga membeberkan ulah nakal sang jaksa. Dia sempat didatangi jaksa dan digoda untuk mengakui perbuatan yang dituduhkan kepadanya. Kivlan marah dan geram dengan sikap jaksa itu.

“Saya digoda jaksa kalau mengaku maka hukumannya ringan. Saya juga diminta untuk mencabut pengacara saya bernama Tonin (Tonin Tachta) yang berjuang melawan ketidakadilan. Katanya kalau pakai Tonin hukumannya jadi berat,” ucap Kivlan. (Red/iNews)

Komentar

News Feed