oleh

AJI Sayangkan Gaji Wartawan Masih Ada di Bawah UMR

-Megapolitan-2.332 views

JAKARTA, Berkeadilan.com – Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Jakarta menetapkan besaran upah layak jurnalis pemula tahun 2020 sebesar Rp 8.793.000. Angka upah layak tersebut adalah take home pay atau gaji total setiap bulan yang diperoleh jurnalis.

Sekretaris AJI Jakarta, Afwan Purwanto mengatakan, bahwa penting bagi perusahaan media memberikan gaji layak bagi para jurnalis guna terciptanya kerja profesional.

“Bagaimana mungkin berharap jurnalis kerja profesional kalau tidak digaji layak? Jangankan digaji layak, bahkan beberapa media masih digaji di bawah UMR,” ujar Afwan di kantor AJI, Jalarta Selatan, Minggu (26/1/2020).

Angka ini ditetapkan berdasarkan kebutuhan hidup layak di Jakarta. Ada 40 komponen kebutuhan hidup layak jurnalis berdasarkan lima kategori ditambah alokasi tabungan 10 persen.

Dan Afwan pun menyayangkan berdasarkan laporan yang diterimanya, untuk di DKI Jakarta saja masih ada perusahaan media yang membayar gaji jurnalisnya di angka Rp 2,3 jutaan. Padahal upah atau gaji di bawah standar gaji Upah Minimum Provinsi (UMP) DKI Jakarta saja saat ini (2020) sebesar Rp 4,276,349 per bulan.

“Masih ada jurnalis yang digaji sebesar RP 2,3 juta per bulannya oleh media tempat bekerja,” ujarnya.

Kategori itu adalah makanan, tempat tinggal, sandang, kebutuhan penunjang, dan kebutuhan lain seperti paket data internet, transportasi, dan komunikasi. Selain itu ada kebutuhan untuk memperluas wawasan jurnalis seperti bahan bacaan dan langganan koran atau majalah baik itu media daring (online) maupun luring (offline).

AJI pun merinci dengan makanan sebesar Rp 3.041.000; tempat tinggal sebesar Rp 1.300.000; kebutuhan lain seperti baju dan sebagainya sebesar Rp 3.799.000; perangkat eletronik sebesar Rp 350.000 per-bulan, dengan hitungan mencicil laptop dan ponsel setiap bulannya, dan tabungan sebesar Rp 799.000.

Lebih lanjut AJI juga mendorong perusahaan media juga wajib menjamin keselamatan kerja, kesehatan baik fisik maupun psikis, dan jaminan sosial kepada setiap jurnalis dan keluarganya. Ini termasuk hak-hak jurnalis perempuan seperti ruang laktasi, cuti haid, dan melahirkan.

AJI juga menilai masih ada perusahaan media yang belum melalukan trauma healing kepada para jurnalis usai melakukan peliputan di daerah rawan bencana dan daerah konflik.

“Masih ada media yang belum memberikan pemulihan sikologis terhadap jurnalisnya, termasuk saat jurnalisnya digebukin,” tandas dia. []

Komentar

News Feed