oleh

Merumus Keputusan Bernas

Oleh : Weinata Sairin

Waiting hurts. Forgetting hurts. But not knowing which decision to take is the worst of suffering” (Paulo Coelho)

Kehidupan yang tengah kita rengkuh adalah sebuah dinamika yang amat menarik. Ada pasang surut, kita jatuh bangun. Kita tertatih-tertatih melangkah menyusuri lorong-lorong sejarah. Sepi dan sendiri. Kita terseok-seok, gagap diterkam zaman. Kita terkapar nanar dipinggir-pinggir kehidupan.

Semua dinamika yang kita alami adalah sebuah sejarah yang ikut membentuk kedirian kita, yang membuat kita mandiri, mature bahkan eksis dan survive dalam kehidupan ini. Sebagai seorang yang beragama, kita tentu terus menerus memohon kekuatan dan hikmat dari Kuasa Transenden yang diatas agar kita tetap tegar dan tangguh dalam menghadapi realitas kehidupan.

Salah satu dari sekian banyak akivitas kehidupan baik mikro maupun makro adalah bagaimana kita memberi jawab terhadap masalah yang diperhadapkan kepada kita. Takada yang abstain dalam hidup ini, takada yang abu-abu, takada yang “in between“. Sikap, pandangan dan keputusan kita harus jelas, pasti, tepat dan deginitif. Apalagi untuk hal-hal yang kita anggap fundamental dan strategis. Tak bisa berlama-lama, pending atau menggantung. Disinilah sikap yang wise dibutuhkan, pada tataran ini wisdom diperukan. Konon kata orang bijak, seseorang dianggap memiliki wisdom yang dalam bukan terletak pada berapa banyak rambut putih yang mewarnai kepalanya, atau seberapa tinggi kualitas dan tingkat ‘keputihan rambutnya’ tapi pada sejauh mana ia memiliki wisdom untuk menjawab tantangan hidupnya Kecakapan, kemampuan, kepandaian atau kesuksesan seorang (pemimpin) acapkali diukur pada seberapa cepat dan seberapa tepat ia mengambil keputusan terhadap masalah yang ia hadapi.

Dalam pengalaman praktis kita menyaksikan bahkan seorang pemimpin negeri lamban, ragu dan takut dalam mengambil keputusan. Dan ini sikap tang tidak menguntungkan. Paul Coelho mengungkapkan pendapat yang terdengar agak sarkastis juga tatkala ia bicara tentang orang yang tidak tahu tentang keputusan mana yang akan diambil.

Mari terus memohon hikmat dari atas agar kita mampu menetapkan keputusan cerdas bernas dalam hidup. Dari pengalaman empirik, keputusan yang menggantung di bidang apapun sangat merugikan dan punya dampak yang negatif baik bagi pribadi maupun bagi institusi atau komunitas. Keputusan harus diberikan secepatnya, dengan tepat dan sesudah melewati mekanisme sebagaimana yang diatur dalam ketentuan perundangan dan atau aturan organisasi.

Marilah segera menetapkan keputusan yang tepat,cerdas dan bernas.

Selamat berjuang. God bless.

Komentar

News Feed