oleh

Waktu Berlari Tanpa Henti

Oleh : Weinata Sairin

Fugit irreparabile tempus. Waktu berlari terus dan tidak akan kembali.

Pada waktu kita masih di Sekolah Rakjat (kini Sekolah Dasar) pepatah bahasa Inggris yang acapkali diperdengarkan kepada kita adalah “time is money“. Pepatah itu selalu diulang, bukan saja agar para murid SD semakin mahir dalam berbahasa Inggris, tetapi juga agar mereka hidup dengan menghargai waktu. Menghargai waktu artinya selalu datang tepat waktu, melakukan tugas sesuai dengan durasi yang disediakan, memulai kegiatan atau acara sesuai dengan jadwal waktu yang tertera dalam undangan, dan sebagainya, dan sebagainya. Pada saat di Sekolah Dasar itu Pak Guru memang tidak sempat memberikan penjelasan yang memadai tentang relasi ‘waktu’ dengan ‘uang’. Hanya setiap ada murid yang terlambat datang ke sekolah tanpa memberikan alasan yang jelas, pak Guru akan mengulang lagi pepatah “time is money” itu, diselingi dengan emosi-emosi kecil.

Dalam pengalaman empirik memang masih banyak ditemukan sikap sebagian orang yang kurang menghargai waktu. Pelaksanaan rapat, seminar, FGD, rapat paripurna, dan beragam aktivitas lainnya mengalami keterlambatan dan atau penundaan karena sikap kita yang kurang menghargai waktu. Dalam konteks keterlambatan karena tidak menghargai waktu, institusi dan para anggota ABRI harus dikecualikan karena mereka telah hidup dalam budaya ‘on time‘ dan hal itu telah menjadi salah satu dari jati diri mereka.

Sikap menghargai waktu harus menjadi budaya dan gaya hidup manusia modern, apalagi di era digital seperti sekarang yang segala sesuatu harus berlangsung secara cepat. Namun harus digaris bawahi bahwa sikap menghargai waktu juga harus diimbangi dengan pengembangan budaya santun dan elegan. Demi menghargai waktu, tidaklah elok jika kita harus menyetop seseorang yang sedang berpidato secara resmi dalam acara yang formal karena dianggap pidatonya terlalu panjang.

Selalu bisa dicari cara yang santun agar kita tidak usah harus menghentikan seseorang yang sedang berpidato. Pada tahap awal harus dikatakan kepada yang akan berpidato tentang durasi pidato tersebut yang mesti dilaksanakan secara tepat waktu. Andaikata pada saatnya ternyata pidato itu melewati waktu yang disediakan sebaiknya tidak distop, apalagi dengan cara yang demonstrstif. Butir acara selanjutnya yang kemudian harus dikurangi waktunya apalagi jika acara tersebut ada dalam pengelolaan internal.

Dihentikan pada waktu kita berpidato dengan alasan apapun, atau dalam acara yang di selenggarakan ada pejabat yang sedang berpidato lalu panitianya mendatangi pejabat sambil membawa catatan agar pidatonya dipercepat, amat tidak elegan dan menghadirkan pengalaman traumatik.

Agama-agama menegaskan bahwa manusia, ciptaan Allah yang mulia, imago dei, khalifah Allah, diciptakan di dalam waktu. Ia hadir didalam ruang dan waktu dan dipanggil untuk mengukir karya terbaik bagi umat manusia dan seluruh ciptaan. Oleh karena waktu itu dinamis, dan waktu manusia memiliki limit maka manusia mesti secara optimal mendayagunakn waktu. Tak boleh kita membuang waktu dengan sia-sia, isilah waktu dengan hal yang produktif dan konstruktif. Pada awalnya Tuhan juga menciptakan waktu, agar manusia hidup dan menghidupi waktu dengan kerja dan karya.

Menarik sekali pepatah yang dikutip dibagian awal tulisan ini. Waktu “berlari terus” dan tak akan kembali. Waktu memang mengalir terus tiada lelah, tak kenal henti. Waktu berjalan sesuai dengan “SOP” yang ia miliki. Tak bisa dipercepat, tak bisa diperlambat. Tak bisa juga direwind atau diforward. Manusia harus menyelaraskan diri dan aktivitasnya dengan dan di dalam waktu.

Kita tak bisa lagi membuat excuse, “tak ada waktu”. Itu bahasa yang kuno dan irasional. Lebih uncivilized lagi jika kita menyatakan “tak ada waktu untuk berdoa, untuk beribadah kepada Tuhan”. Kitalah manusia yang memiliki akal budi yang berkuasa atas waktu. Kita harus mampu mengatur, memanage waktu untuk kerja, untuk keluarga, untuk aktivitas keagamaan. Jangan terlambat untuk bertobat kepada Tuhan, jangan menyia-nyiakan waktu untuk hal yang tidak perlu dan kontra produktif. Gunakan waktu untuk menabur kebajikan, untuk mengingat-ingat akhir zaman yang sudah hadir di depan mata.

Kita diingatkan makna kata waktu dalam bahasa Yunani : chronos dan kairos. Chronos, kronologi, adalah untaian waktu yang berjalan secara standar sesuai dengan apa yang direncanakan. Chronos adalah “waktu manusia”.
Kairos, adalah waktu spesial yang dimiliki Tuhan yang di dalamnya Allah bertindak sesuai dengan agenda dan rencana keselamatan-Nya. Dalam chronos dan kairos itulah kita mengukir karya terbaik dalam kehidupan ini.

Gunakan waktu yang ada dalam tanggungjawab kepada Allah. Gunakan jabatan yang kita emban dalam arash apapun untuk memberi kemaslahatan bagi orang banyak. Jauhi pikiran “mumpungisme“, mumpung sedang menjabat ya sekaranglah korupsi, sekaranglah menyelundupkan barang berharga, sekaranglah mengubah regulasi demi kepentingan pribadi atau kelompok, dan sebagainya.

Kita semua adalah umat beragama, kita hidup dalam ruang waktu yang terbatas. Mari berikan yang terbaik dalam waktu yang terbatas itu!


Selamat berjuang. God bless.

Komentar

News Feed