oleh

Aksi Mahasiswa di Universitas Moestopo Jakarta Diduga Dihadang Puluhan Prewan Bayaran

Berkeadilan.com, Jakarta – Tuntutan mahasiswa Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama) kepada Pimpinan Universitas dan Yayasan untuk mewujudkan Tata Kelola Perguruan Tinggi sesuai dengan Good University Governance tidak mendapatkan respons positif. Pimpinan Universitas dan Yayasan Universitas Moestopo justru diduga menyewa puluhan preman sebagai tenaga keamanan dan dengan vulgarnya menempatkannya di dalam kampus.

Para mahasiswa yang melakukan aksi damai di Kampus Universitas I Moestopo, Jl. Hang Lekir, Jakarta Pusat pada Jumat (1/11/2019) mendapat hadangan dari para preman yang ditugaskan oleh Pimpinan Universitas dan Yayasan. Tindakan penghadangan ini sempat menyebabkan ketegangan yang untungnya tidak berbuntut panjang setelah para mahasiswa dapat menahan diri dan tidak terpancing provokasi.

Ratusan mahasiswa Universitas Moestopo ini menuntut reformasi tata kelola universitas dan pengunduran diri Pembina Yayasan, Prof. Thomas Suyatno yang dianggap sebagai salah satu sumber masalah utama kekacauan tata kelola di Universitas Moestopo. Aksi para mahasiswa Moestopo ini telah dilakukan sejak awal Oktober lalu.

“Kami menyesalkan langkah dari pimpinan universitas dan yayasan yang malah mengundang preman untuk membungkam mahasiswa yang hanya menginginkan adanya transparansi dan akuntabilitas tata kelola universitas. Sikap mereka semakin meyakinkan kami bahwa ada yang ditutup-ditutupi oleh para pimpinan dan yayasan”, ujar salah satu mahasiswa.

“Mahasiswa Moestopo akan meminta Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Komnas HAM, dan lembaga-lembaga terkait lain untuk menyikapi tindakan premanisme dan intimidasi karena ini adalah pembungkaman aspirasi. Para dosen yang mendukung tuntutan kami juga mendapat intimidasi dari pimpinan Yayasan”, demikian disampaikan dalam salah satu orasi.

Kehadiran para preman di lingkungan kampus telah meresahkan para mahasiswa, dosen, dan karyawan di Universitas Moestopo dan menyebabkan kegiatan perkuliahan terganggu. Langkah pimpinan Universitas dan Yayasan Moestopo dengan menghadirkan preman kedalam kampus dikhawatirkan oleh para mahasiswa akan menimbulkan benturan dan memperkeruh keadaan, dan kebijakan tersebut tidak seyogyanya dilakukan oleh pimpinan lembaga pendidikan tinggi.

Rencananya hari ini mahasiswa akan terus melanjutkan penyampaian aspirasi dan melaporkan keberadaan para preman tersebut ke pihak kepolisian dan Komnas HAM dan Mendikbud. (Red)

 

Komentar

News Feed