oleh

GPMI Himbau Polemik Ceramah UAS Diakhiri

Jakarta, Berkeadilan.com — Ketua Gerakan Persaudaraan Muslim Indonesia (GPMI) DKI Jakarta, Ust Syarief Hidayatulloh meminta semua pihak menahan diri untuk tidak melakukan tindakan yang dapat mempertajam polemik dalam kasus ceramah Ustadz Abdul Somad (UAS) yang membahas tentang salib.

Syarief menilai klarifikasi UAS di MUI sudah cukup untuk menutup kasus ini. Jika ada pihak yang merasa belum puas, bisa diselesaikan secara damai. Syarief setuju dengan sikap MUI yang meminta kasus UAS ini  tidak perlu diselesaikan secara hukum.

“Sebaiknya polemik ini diakhiri. Saya setuju dengan himbauan MUI agar kasus UAS ini tidak diselesaikan secara hukum, karena dampaknya akan lebih besar lagi bagi situasi bangsa yang sedang dirundung duka akibat peristiwa Papua. Sebaiknya semua pihak menahan diri, damai itu indah. GPMI sebagai ormas Islam, bersedia menjadi fasilitator bagi semua pihak yang berselisih pendapat, agar supaya tercapai kedamaian di Indonesia,” ujar Syarief di Jakarta, Kamis (23/8).

Dalam pandangan Syarief, apa yang disampaikan UAS tidak masuk unsur penistaan, karena sesuai dengan  yang disampaikan UAS, beliau hanya menjawab pertanyaan jemaah dan tidak dalam kajian perbandingan agama; disampaikan dalam masjid artinya di ruang tertutup dan diikuti oleh jemaahnya yang muslim.

“Yang disampaikan beliau itu sudah sesuai dengan Al Qur’an dan Al Hadits , jadi tidak bisa dikatakan penistaan. Hanya saja yang menjadi masalah itu adalah kenapa itu bisa viral di media sosial. Itu yang seharusnya dicari karena telah menimbulkan polemik,” ujar Syarief.

Ustadz Abdul Somad sebelumnya sudah memberi klarifikasi terkait dengan ceramahnya tersebut. Dia menyatakan, ceramah tersebut terjadi tiga tahun lalu dan konteksnya adalah dia menjawab pertanyaan jemaah pengajian. Ceramah dilakukan di Masjid At-Taqwa, Desa Simpang Kelayang, Riau.

Meskipun sudah melakukan klarifikasi, Komunitas Horas Bangso Batak melaporkan Somad ke Polda Metro Jaya karena menilai ceramah tersebut merupakan bentuk penistaan agama mereka. Selain itu, Pengurus Pusat Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (PP GMKI) juga telah membuat laporan sejenis ke Badan Reserse Kriminal Markas Besar Polri. (Ist)

Komentar

News Feed