oleh

Sepakbola Merah Putih, Uni Papua FC dan GP Ansor Gelar Sepakbola Dengan Anak-Anak Pengungsi Afganistan dan Somalia

Berkeadilan.com – Dalam rangka Peringatan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan RI ke-74. GP Ansor Cabang Jakarta Barat Bersama Perkumpulan Sepakbola Uni Papua atau Uni Papua FC mengadakan coaching clinic, pemulihan trauma terhadap anak-anak pengungsi dari Afganistan dan Somalia di Kawasan Kalideres, Jakarta Barat.

Sekitar 100 anak berusia 6-13 tahun pengungsi Afganistan dan Somalia itu diajak bermain Sepakbola bersama dengan para pelatih dan relawan Uni Papua FC dan GP Ansor. Ratusan anak yang bermukim di suku dinas sosial Jakarta Barat itu tampak tak bisa menyembunyikan kegembiraannya. Raikha, (6 Tahun), Anak Afganistan ini mengaku senang bisa bermain bola. Hampir tiga bulan ia berada dipengungsian baru pertama kali dirinya diajak untuk bermain bola. “Terimakasih. Senang,” ungkap Raikha dengan Bahasa Indonesia terbata-bata.

Kegembiraan anak-anak tentu saja merangsang para relawan untuk berbagi pengalaman. Frans, salah satu anggota Uni Papua ikut terlibat mengajari anak-anak kurang beruntung ini. Frans, Pemuda Papua yang telah bergabung dengan Perkumpulan Sepakbola Sosial Uni Papua FC ini tampak melatih anak-anak ini untuk menendang dan mengocek bola. Menurut Frans, dengan sepakbola mereka akan bahagia. “Namanya anak-anak mereka senang dengan sepakbola,” ungkap Frans singkat.

Selain bermain Sepakbola Bersama para relawan juga membagikan makanan dan vitamin C, susu serta minuman. Uni Papua FC juga menyerahkan bantuan bola dari One World Play Project.

Koordinator GP Ansor Jakarta Barat AlFanny menyebut tema sepakbola ini adalah Sepakbola Merah Putih. Sebagai warga negara Indonesia tentunya harus memupuk rasa solidaritas dan kemanusiaan. “Kita tahu anak-anak pengungsi ini adalah butuh pertolongan kita. Dan sesama manusia kita harus peduli tanpa melihat latar belakangnya,” ungkap AlFanny.

AlFanny menyebut ingin memberikan pendidikan informal untuk anak-anak pengungsi ini berupa bimbingan singkat setidaknya dalam seminggu sekali. “Adalah hak anak-anak untuk mendapatkan pendidikan ini. Dan masalah pengungsi ini adalah masalah kemanusiaan, meskipun bukan warga Indonesia,” ungkap AlFanny.

Harry Widjaja, CEO Papua FC menambahkan kegiatan Sepakbola merah putih adalah aksi sosial terhadap anak-anak pengungsi. Pihaknya peduli terhadap perkembangan mental anak-anak pengungsi. “Semacam trauma healing, agar mental anak-anak ini sehat,” ungkap Harry. (BHI)

Komentar

News Feed