oleh

Terkonfirmasi Lewat Pernyataan Adhyaksa Dault, Bahwa, Prabowo Sebarkan Hoax dan Sok Jagoan

Jakarta – Pernyataan Politisi Partai Indonesia Raya, (GERINDRA) Adhyaksa di acara ‘Pentas Seni Budaya dan Kuliner’ yang digagas oleh Jasma di Sentul International Circuit, Bogor, Jawa Barat, Sabtu (2/3/2019). Dalam sambutannya, dia menyamakan sosok Prabowo dengan guru bahasa Abdullah bin Abdul Kadir.

Apa yang dikatakan Politikus Gerindra Adhyaksa Dault, saya melihat bahwasanya, hal ini telah mengkonfirmasi kepada publik, bahwa, “semua isu yang selama ini, yang di katakan oleh Prabowo Subianto adalah cerita fiksi alias tidak benar (Hoax) Sok Jagoan. Maka apa yang lontarkan tentang sesuatu peristiwa, kebijakan atau manusia, tidaklah merupakan peristiwa historis yang benar-benar terjadi. Seperti juga tokoh yang dimaksud Adhyaksa Dault (Abdullah Munsyi) dalam tulisannya selalu berusaha agar nampak sebagai jagoan.

Berikut Tokoh fiksi yang di maksud Adhyaksa Dault. Sebagaima didapatkan dari berbagai sumber : Abdullah bin Abdulkadir Munsyi (Munshi) (Malaka, 1796 – Mekkah , 1854 (dahulu Turki sekarang Arab Saudi) adalah seorang sastrawan Melayu.

Abdullah merupakan peranakan Arab dan Tamil, namun dibesarkan di tengah budaya Melayu di Melaka, yang pada saat itu baru saja dijajah Britania. Dia bekerja sebagai guru bahasa (munsyi). Pada awalnya dia mengajarkan bahasa Melayu kepada tentara keturunan India di garnisun Melaka, dan kemudian kepada para misionaris, pegawai dan pebisnis Britania dan Amerika Serikat. Dia pernah bekerja untuk Thomas Stamford Raffles sebagai juru tulis, menerjemahkan Injil serta teks agama Kristen lainnya untuk London Missionary Society di Malaka, dan menjadi pencetak untuk American Board of Missions di Singapura.Abdullah meninggal di Jeddah. Kemungkinan karena penyakit kolera, pada saat hendak menjalankan ibadah haji. (Sumber : wikipedia.org)

Abdullah bin Abdul Kadir Munsyi (atau disingkat Abdullah Munsyi) sudah akrab di masyarakat Malaysia dan Indonesia. Banyak sarjana dan ahli membahas karya-karyanya meski keliru menganggap yang ditulisnya sebagai fakta sejarah.

Padahal karya Abdullah Munsyi merupakan fiksi. Kenyataan itu terungkap ketika budayawan Ajib Rosidi membahas tiga jilid buku Karya Lengkap Andullah bin Abdul Kadir Munsyi yang ditulis Amin Sweeney, profesor emeritus dalam bidang pengkajian Melayu dari Universitas California, Berkeley, yang kini tinggal di Jakarta.”Sebagai fiksi, maka usaha para sarjana yang mencoba memeriksa data-data histories bertalian dengan karya-karya Abdullah Munsyi hanya perbuatan sia-sia belaka,” katanya. Di hadapan sekitar 200 orang yang hadir dalam bedah buku itu dari berbagai kota, Ajib menegaskan, meskipun dalam karangan-karangannya Abdullah Munsyi selalu menggunakan kata ganti orang pertama, sebagai saksi tentang apa yang terjadi dan diceritakannya seperti Singapura terbakar, perjalanan ke Kelantan dan ke Mekah, bahkan otobiografinya, namun pada dasarnya karya Abdullah Munsyi merupakan fiksi.

Dalam buku Karya Lengkap Abdullah bin Abdul Kadir Munsyi (penerbit Kepustakaan Populer Gramedia bekerjasama dengan Ecole Francaise d Extreme-Orient, Jakarta), Amin Sweeney bukan saja menunjukkan adanya hal-hal yang tidak benar secara historis dalam berbagai karangan Abdullan Munsyi, melainkan juga membahas secara mendalam tentang sastra lisan dan pernaskahan. Menurut Ajib, dengan hidung detektif yang tajam dan mata yang cermat, Amin membuktikan Abdullah Munsyi yang dikisahkan dalam karya-karyanya berlainan dengan Abdullah Munsyi biologis yang menulisnya. Maka apa yang ditulisnya tentang sesuatu peristiwa atau manusia, tidaklah merupakan peristiwa historis yang benar-benar terjadi. Amin menunjukkan bukti-bukti yang kuat bahwa Abdullah Munsyi dalam tulisannya selalu berusaha agar nampak sebagai jagoan . (Sumber : travel.kompas.com)

Berikut pernyata’an : Politikus Gerindra Adhyaksa Dault bicara tentang sosok Prabowo Subianto-Sandiaga Uno di hadapan Jaringan Alumni SMA dan SMK Seluruh Indonesia (Jasma). Dia memberikan alasan mengapa Jasma harus memenangkan pasangan nomor urut 02 itu.

Hal ini disampaikan Adhyaksa di acara ‘Pentas Seni Budaya dan Kuliner’ yang digagas oleh Jasma di Sentul International Circuit, Bogor, Jawa Barat, Sabtu (2/3/2019). Dalam sambutannya, dia menyamakan sosok Prabowo dengan guru bahasa Abdullah bin Abdul Kadir.

“Saya mau cerita ke Ibu-ibu, Bapak-bapak, kenapa harus Prabowo-Sandi? Karena ada dulu Abdullah bin Abdul Kadir, Munsi, Munsi itu guru bahasa. Dia mengkritik raja-raja di Nusantara, dari mulai Sumatera hingga Jawa. Kenapa dia kritik, ‘Kok raja kita di Nusantara pada keenakan dengan kekayaan, disambut dengan tarian,’ dia katakan, ‘Kalau begini terus, takutnya Nusantara dikuasai asing oleh Eropa,'” kata Adhyaksa : (Sumber – news.detik.com)

BUNG REY : AKTIVIS GERAKAN SOSIAL

Komentar

News Feed