oleh

Ken Setiawan : Waspada Teror Jelang Pilpres 2019

-Headline, Nasional-35.599 views

Jakarta, berkeadilan.com – Pendiri Negara Islam Indonesia (NII) Crisis Center Ken Setiawan menilai, beberapa teror belakangan muncul seperti pembakaran kendaraan bukanlah kebetulan, namun sudah direncanakan dan tujuanya jelas bahwa mereka ingin jelang pilpres suasana tidak kondusif dan ini bisa jadi amunisi untuk memojokan aparat keamanan dan pemerintah yang diangap gagal dalam memberikan rasa aman di masyarakat.

Selain itu, polemik tentang bebasnya Ust. Abu Bakar Ba’asyir (ABB) juga terus bergulir setelah pemerintah membatalkan pembebasan karena alasan ada administratif yang belum di laksanakan.

Ken Setiawan mengatakan, hari ini para pendukung Khilafah sangat marah oleh beberapa sebab, pertama batalnya pembebasan Ba’asyir, kedua, capres yang mereka harapkan dari hasil ijtima ulama dan diharapkan akan memperjuangkan khilafah Islam dan menolak PKI, tapi justru berbanding terbalik dan malah menerima dukungan PKI, bahkan Partai Bulan Bintang (PBB) sebagai satu satunya partai muara mereka yang dianggap pro khilafah, kini pun sudah berlabuh ke partai pertahana yang sebelumnya dianggap mereka mendukung penista agama.

Jadi menurut mereka, kini tidak ada pilihan untuk memuluskan tujuan mereka dalam syiar khilafah dalam menuju parlemen.

Kekecewaan mereka menurut Ken bisa mengakibatkan pesimis dan putus asa di kalangan pendukung Khilafah dan di Indonesia ini diakui Ken cukup Banyak, mulai dari ex napi teroris, deportan suriah dan kelompok radikal yang kini pimpinan mereka ditangkap dan ditahan.

Ketika punya komandan, mereka akan mudah dikontrol dan dimonitor, tapi bila tanpa komandan maka ini yang berbahaya karena mereka punya ketrampilan membuat bom, jadi bisa saja mereka melakukan aksi kapan dan dimanapun mereka mau, sel sel tidur banyak yang masih aktif, ini sangat berbahaya.

Salah satu pertimbangan membebaskan Ba’asyir menurut Ken Setiawan disamping kemanusiaan adalah pemerintah mencoba merangkul kalangan pendukung Khilafah yang selama ini dianggap selalu frontal.

Ba’asyir adalah figur tokoh yang disegani oleh kalangan pendukung Khilafah.

Tapi karena ada suatu hal yang sifatnya prinsip maka pembebasan tersebut ditunda/dibatalkan. Padahal Presiden dengan berbagai pertimbangan dan resiko telah berusaha membuat keputusan kontroversi. Namun niat baik pemerintah buahnya tidak seperti yang diharapkan karena Ba’asyir masih tetep pada pendirian tidak mengakui bahwa dirinya bersalah.

Ken Setiawan menyayangkan sikap ABB yang dianggap tidak mempertimbangkan aspek keamanan nasional.

Padahal dalam beberapa dialog dan kesempatan ABB telah membuat statemen bahwa pancasila tidak bertentangan dengan Al Wish, dan masalahnya adalah hanya belum mau menandatangani dokumen tentang pengakuan tindak pidana yang di lakukan hingga ikrar setia pada NKRI.

Ba’asyir sudah katakan bahwa pancasila tidak bertentangan dengan Islam, tapi endingnya dia memilih Islam saja, bukan Pancasila.

Menurut Ken, sebenarnya simpel, tapi gensi itu masalahnya, bahwa masa sih seorang Baasyir yang terkenal radikal dan extrem, tapi kok mau tanda tangan pengakuan bersalah dan ikrar setia NKRI yang dalam doktrin mereka adalah Jahiliyyah dan kafir/ Taghut. Bagaimana nanti reaksi jamaahnya bila Ba’asyir mau kompromi dengan pemerintah?

Hanya karena tanda tangan saja akhirnya membuat heboh seluruh negeri, bahkan keluarga dan kerabat serta pendukung susah siap menyambut kepulangan harus menahan kecewa.

Menurut Ken, pemerintah sudah ada itikad baik dengan segala resiko dan siap mendapat caci maki dari masyarakat karena membebaskan orang yang dianggap dalang dari seluruh rangkaian kasus bom di Indonesia, terutama korban dan keluarga korban yang sampai saat ini banyak yang belum bisa memaafkan para pelaku bom.

Dikhawatirkan Ba’asyir jika bebas akan memotivasi jamaahnya kembali melakukan aksinya kembali.

Pembebasan Ba’asyir menurut Ken Setiawan, persoalan utama adalah sampai saat ini ABB tidak pernah merasa bersalah dengan apa yang telah di lakukanya, ini yang belum ada titik temu sehingga Ba’asyir menolak kompromi dengan pemerintah.

Kini bola liar ada ditangan Ba’asyir, pro kontra masih tak terkendalikan dan kedepan tidak memungkinkan justru menjadikan ini sebagai alasan munculnya opini dari pendukung dengan membuat teror baru karena pemerintah dianggap mendzolimi Ba’asyir.

Ken Setiawan khawatir akan muncul teror jelang pilpres karena dendam dan kekecewaan mereka berubah menjadi keputusasaan yang akhirnya bisa melakukan jihad bom yang menurut doktrin nereka akan mendapatkan 72 bidadari dan surga tanpa hisab bersama keluarga.

Satu orang saja beraksi maka sudah bisa membuat geger dan heboh seluruh negeri, tutupnya.

Sumber www.niicrisiscenter.com
Hotline NII Crisis Center
WhatsApp 0898-5151-228

Komentar

News Feed