oleh

Sisi Lain Dari Married By Accident

-Pendidikan-11 views

Jakarta, berkeadilan.com – Mahasiswa London School of Public Relation Ways Atsa Qofi mengungkapkan, Married By Accident (MBA) sudah tidak asing lagi bagi banyak kalangan di Indonesia, khususnya di Jakarta.

Banyak pasangan yang mengalami MBA di pandang sebelah mata. Bagaimana mereka bisa survive dikehidupan dengan kondisi yang ada?

“Indonesia masih menganut budaya ketimuran yang memegang teguh norma dan kekentalan budaya. Kasus Married by Accident memang masih sulit diterima masyarakat Indonesia pada umumnya,”kata Qofi di Jakarta, Kamis (14/02)

Menurut Qofi, peristiwa atau kejadian MBA didasari oleh beberapa faktor. Salah satunya mungkin dengan kebablasan informasi atau kemudahan akses serta keterbatasan informasi mengenai seks education.

Berawal dari rasa ingin keingintahuan, para remaja jaman sekarang tentang seks yang semakin menggebu-gebu sehingga mereka menonton film porno ataupun didukung oleh film barat yang tidak jarang mereka menampilkan adegan porno tanpa disensor. Dan juga factor lingkungan ataupun pertemanan yang mungkin tidak terlalu perduli dengan adanya MBA, dikarenakan mungkin beberapa dari mereka sudah mengikuti budaya barat sehingga mempengaruhi sesuatu yang negative tentang seks.

Mayoritas Married By Accident di Indonesia berasal dari kalangan remaja. Remaja merupakan periode terjadinya pertumbuhan yang sangat pesat mulai dari fisik, psikologis maupun intelektual. Masa remaja adalah masa yang dimana sifat keingintahuan yang tinggi, menyukai petualangan dan berani mengambil keputusan tanpa membertimbangkan resiko yang akan terjadi.

Data United Nations Development Economic and Society Affairs (UNDESA 2010), Indonesia termasuk negara ke-37 dengan persentase pernikahan muda yang tinggi bahkan menduduki posisi kedua di ASEAN.

“Jakarta merupakan tempat yang paling banyak disukai atau diminati oleh para remaja, karena jakarta merupakan Ibukota, kehidupan dijakarta tidak pernah mati. Jakarta di penuhi oleh perkantoran, pusat perbelanjaan hingga tempat hiburan, sehingga remaja di jakarta lebih banyak di banding kota lainnya,” jelasnya

Kehidupanku di jakarta jauh lebih bebas, club malem dimana-dimana, dan hampir setiap hari club malam dijakarta tidak pernah sepi sehingga pergaulan bebas dijakarta semakin meningkat ini salah satu factor banyaknya anak remaja yang hamil di luar nikah/Married By Accident di Jakarta. Aborsi dan kematian bayi meningkat karena tidak siap dan tidak terima dengan kondisi, situasi yang sudah terjadi, ditambah hinaan dan cacian dari lingkungan sekitar yang tidak bisa terima dengan orang yang mengalami Married By Accident sehingga dia tak ragu lagi untuk membunuh bayinya atau bunuh diri.

Sedangkan jika masyarakatnya trus memperlakukan orang yang mengalami MBA dengan cacian, hinaan, atau dengan memandang sebelah mata, maka bukan hanya yang mengalami MBA saja yang akan hancur mentalnya tetapi keluarganya juga pasti hancur karena dikucilkan oleh lingkungan sekitar.

“Tujuan saya membuat article ini untuk memberikan empathy terhadap orang yang mengalami MBA dan mengajak masyarakat untuk tidak memandang sebelah mata terhadap orang tyang mengalami Married By Accident,” tambahnya

Kita sendiri mengatahui kebutuhan sexual secara psikologis merupakan kebutuhan fisiologi, akan tetapi melakukan hubungan sexual tanpa adanya status merupakan pelanggaran norma agama dan norma social. Dengan riset yang saya lakukan, ternyata hampir 94% masyarakat mengetahui tentang Married By Accident. Berbagai pandangan pun muncul, 50,9% Netral, 47,2% memandang Negatif, dan hanya 3% yang menganggap MBA adalah hal yang positif. Dari hasil survey yang saya ambil ternyata 66% MBA banyak terjadi dilingkungan sekitar.

Sekitar 106 konresponden yang memberikan tanggapan hampir 100% tidak menjauhkan atau mengucilkan kaum MBA, tetapi tetap saja masih banyak orang yang memandang MBA dengan sebelah mata atau mengucilkannya.

MBA bukan suatu hal yang harus dijauhkan apa lagi untuk dikucilkan, Setiap manusia pernah berbuat salah dan melakukan keselahan. Bukan berarti saya mendukung dengan orang yang mengalami Married By Accident.

Berikut beberapa Factor terjadinya Married By Accident :

1. Married By Accident bisa terjadi karena peranan orang tua yang belum maksimal dalam mengawasi anaknya . Ya memang peranan orang tua untuk saat ini sangat berpengaruh atas pergaulan anaknya, ditengah pesatnya perkembangan teknologi orang tua harus sangat ekstra untuk mengawasi pergaulan anaknya.

2. Kurangnya pendidikan agama bagi para pelaku MBA. Karena orang tua sekarang lebih mementingkan anak-anaknya untuk les balet, les music, les matematika, les bahasa inggris di bandingkan belajar ilmu keagamaan, para orang tua ingin anaknya lebih menonjol dibidang akademik disbanding keagamaan. Tanpa sadar pendidikan agama yang mereka anut sangat kurang. Dari kurangnya pendidikan agama dari keluarga, berdampak dalam kehidupan social mereka. Contohnya pada saat ini, sudah banyak kita temui anak gadis yang pakai baju sexy atau senonok yang mengundang hasrat lelaki. Dari sini saja sudah kita lihat bahwa pemahaman mereka akan agama masih sangat kurang. Jadi gimana mereka mau tau kalau Married By Accident itu salah satu dosa yang paling besar dalam agama mereka.

3. Orang tua memberikan kebebasan yang terlalu besar. Sudah bisa kita lihat sendiri anak kecil sekarang sudah megang iphone. Disini peran orang tua sudah salah mestinya main sepeda tetapi orang tuanya lebih memilih mebelikan gadget untuk mainan anaknya. Gimana dari sisi pergaulan?. Sebenernya cara mendidik orang tua jaman dulu lebih efektif dibanding orang tua jaman sekarang.

4. Kurangnya sex education. Sex education itu sangat penting. Sex education seharusnya sudah diberikan sejak duduk di SMP. Sex education bukanlah hal yang tabu lagi untuk dibicarakan, mereka yang Married By Accident dikarenakan kurangnya pengetahuan tentang sex. Supaya tidak menyimpang sex education baiknya diberikan oleh keluarga, dan sekolah lebih tanggap lagi terhadap murid-muridnya agar budaya MBA ini enggan melebar.

5. Married By Accident dilakukan atas dasar kemauan satu sama lain. Karena kurangnya restu atau dukungan oleh orang tua atas hubungan yang sudah dijalankannya. Sehingga dengan cara melakukan sex hingga menyebabkan MBA itulah agar mereka memperoleh restu dari orang tuanya. Banyak loh anak jaman sekarang melakukan sex hanya untuk direstui hubungannya oleh orang tua mereka contohnya seperti narasumber saya yang tidak ingin namanya di cantumkan dan kita sebut saja dia Aryo.

Aryo menuturkan, saya MBA karena saya tidak mendapatkan restu dari orang tua saya terhadap hubungan yang sudah saya jalankan selama 3 tahun. Dengan terjadinya MBA orang tua saya akhirnya merestui hubungan yang kami jalankan ini

“Jangan memandang orang yang mengalami Married By Accident itu selalu negative. Orang masih banyak yang memandang saya negative,” jelasnya

Saya masih sangat terpukul dengan orang yang masih memandang saya dengan sebelah mata. Dan saya juga sangat iri dengan teman-teman sebaya saya yang asik dengan pergaulan dan sosialisasinya, sedangkan saya harus berjuang keras mencari nafka untuk menghidupi istri dan anak saya agar tetap bertahan hidup walaupun umur saya masih sangat muda, dan saya banyak belajar dari kehidupan ini. Saya merasakan sendiri pahit manisnya hidup ini.

Tetapi dengan saya mengalami MBA ada hikmahnya karena saya bisa bertanggung jawab lebih dan dewasa sebelum waktunya. Belum tentu semua anak dengan seumuran saya sudah bisa membina rumah tangga dan mengasuh anak. Saya sangat amat bersyukur dengan kejadian ini ditambah dengan support keluarga yang diberikan begitu besar. Tetapi mengapa masih saja banyak orang yang mengalami MBA di pandang sebelah mata dan dikucilkan.

“Banyak orang yang MBA hidupnya lebih harmonis dibandingkan dengan orang yang menikah dengan wajar,” tegas Aryo

Selain Aryo, ada korban yang tidak ingin disebutkan juga namanya, kita sebut saja si Melati. Kehidupan dia jauh lebih terbalik di bandingkan Aryo ini.

Dalam kesaksiannya Melati menuturkan, saya hampir bunuh diri dan mengaborsi kandungan saya. Kerena banyaknya tekanan dan cibiran dari linkungan sekitar terutama keluraga saya yang hampir mengusir saya dari rumah. Tetapi lanjut Melati, dengan berjalannya waktu dan penjelasan saya kepada orang tua saya akhirnya mereka bisa menerima saya walaupun orang tua saya malu dengan tetangga apa yang telah saya perbuat. Akhirnya saya menikah dengan laki-laki yang sudah menghamili saya. Tetapi setelah beberapa minggu saya menikah suami saya malah meninggalkan saya begitu saja tanpa sebab.

Disinilah kata Melati, saya merasa terpukul lagi karena suami saya meninggalkan saya begitu saja sedangkan dalam hitungan bulan lagi saya mau melahirkan. Entah gimana perasaan orang tua saya jika mereka tau kalau aku ditinggalkan suamiku sendiri. Dan belum lagi ditambah cibiran dari tetanggaku yang kemarin aja belum selesai diomongin sama mereka ditambah lagi dengan kejadian ini.

“Berat sekali beban malu yang harus dihadapi keluarga saya ini, disinilah detik detik saya ingin bunuh diri,” tegasnya

Tetapi tutur dia, dengan kejadian semua ini saya diberikan hikmah yang begitu besar. Karena saya menjadi ‘’strong women’’ belum tentu semua wanita seumuran dengan saya mampu menjalani beratnya hidup ini. Saya bekerja dan kuliah untuk menafkahi anak saya sedangkan mantan suami saya sudah tidak bertanggung jawab lagi dengan anaknya dan tidak memberikan nafkah sama sekali. Lahiran pun memakai uang saya. Tapi saya dapat belajar dewasa sebelum waktunya.

“Walaupun masih banyak orang yang mandang saya negative dan sudah menjadi makanan sehari-hari,” terangnya

Disisi lain, Married By Accident bukanlah hal yang seharusnya di pandang negative. Tetapi orang yang mengalami Married By Accident harus di supports jangan dikucilkan atau dipandang sebelah mata, dengan mengucilkan atau memandang sebelah mata dapat membuat orang tersebut mengalami depresi mental dan bahkan bisa mengakibatkan bunuh diri atau aborsi.

“Stop Bullying terhadap orang yang mengalami Married By Accident,” tegasnya

(*)

Komentar

News Feed