oleh

JUMRAT VFS Tasheel Nilai Pengambilan Data Biometrik Di Embarkasi Akan Sulitkan Calon Jemaah Umrah Indonesia.

-Nasional-32.922 views

Jakarta, berkeadilan.com –
Mekanisme pengambilan sidik jari dan retina di embarkasi bagi jemaah haji reguler tahun 2018 diklaim sebagai terobosan dan pelayanan baru bagi perusahaan asal Arab Saudi VFS-Tasheel. Terobosan ini mendapat reaksi keras dari
ribuan calon jemaah umrah yang tergabung dalam Jemaah Umrah dan Masyarakat VFS Tasheel (JUMRAT VFS Tasheel) menggelar aksi unjuk rasa di kantor Kementerian Agama RI Jakarta. Rabu, (03/10/18). Mereka menolak mekanisme pengambilan data biometrik di embarkasi.

Koordinator aksi Arta menjelaskan, pengambilan sidik jari dan retina ini diklaim sebagai terobosan dan pelayanan baru oleh perusahaan asal Arab Saudi ini. Pengambilan data biometrik sebaiknya tetap dilakukan di bandara kedatangan Saudi Arabia. Programnya ini bukan memberi kemudahan namun sebaliknya, hanya akan menyulitkan bagi calon jemaah umrah Indonesia.

Jika perusahaan VFS Tasheel menjanjikan membuat 34 kantor caabang di seluruh Indonesia, maka hanya ada 1 kantor disetiap provinsi diseluruh Indonesia. “Program ini dirasa akan mempersulit para calon jemaah haji dan umrah, mengingat Indonesia merupakan negara kepulauan yang lokasinya tersebar dan berjauhan”, ujarnya.

Arta menegaskan, proses pengambilan data biometrik yang dilakukan oleh VFS-Tasheel sebagai syarat memperoleh visa umrah amat sangat memberatkan bagi calon jemaah umrah asal Indonesia.

Sementara itu, proses pengambilan data biometrik di negara asal hanya usaha bisnis dari perusahaan asal Arab Saudi ini. Pelayanan dan keamanan menjadi alasan. Kebijakan ini kata dia, menjadi tanda tanya, apabila mengatasnamakan aturan Kementerian Luar Negeri Arab, namun Kementerian Luar Negeri RI belum menerima pemberitahuan diplomatik, sementara usaha biometrik ini dimonopoli oleh perusahaan VFS-Tasheel.

“Tamu Allah wajib dilayani bukan obyek bisnis VFS Tasheel. Menteri Agama, kami tidak akan pulang dari sini apabila menteri tidak menyelesaikan permasalahan ini”, teriak pengunjuk rasa saat orasi.

Menanggapi aksi ini, Direktorat Haji Khusus dan Umrah Kemenag RI Arfi Hatim berharap, kebijakan ini tidak memberatkan dan tidak akan membebani masyarakat Indonesia yang akan umrah, karena Indonesia ini memiliki geografi yang sangat luas.

Oleh karenanya, untuk proses biometrik akan menempuh perjalan yang akan jauh dan menambah cost. “Kalaupun harus diterapkan, kami akan cari cara lain seperti misalnya di bandara saat jemaah umroh tiba di bandara”, pungkasnya.

(Nico)

Komentar

News Feed