oleh

Pengamat: Figur Cawapres Tidak Terlalu Signifikan

-Polhukam-25.095 views

JAKARTA – Direktur Indonesian Publik Institute (IPI) Karyono Wibowo meyakini mayoritas pendukung Ahok yang dikenal dengan nama Ahoker ini masih tetap cenderung memilih Jokowi meskipun sebagian para Ahoker merasa kecewa dengan pilihan Jokowi yang memilih Ma’ruf Amin menjadi calon wakil presiden untuk mendampinginya.

Hal tersebut menurut dia, disebabkan adanya ikatan emosional yang sangat kuat antara Ahoker dengan mantan walikota Solo itu. Dia menilai kekecewaan para Ahoker terhadap Jokowi ibarat anak dengan seorang ayah. Kekecewaan anak karena keinginannya tidak dipenuhi tidak lantas memutus hubungan antara anak dan ayah. Karenanya, Ahoker yang kecewa bukan berarti tidak memilih pasangan Jokowi-Ma’ruf.

Soliditas Ahoker tetap memilih Jokowi lanjut peneliti di Indo Survei & Strategy (ISS) ini, telah terkonfirmasi dari hasil survei terbaru LSI Denny JA. Dalam survei tersebut elektabilitas pasangan Jokowi-Ma’ruf Amin 52,2 persen. Sementara pasangan Prabowo-Sandiaga Uno 29,5 persen, dan masih ada yang belum menentukan pilihan 18,3 persen.

Dari hasil survei tersebut Karyono menilai, figur cawapres tidak terlalu berpengaruh signifikan baik pasangan cawapres Jokowi maupun Prabowo.

“Ketika diuji berpasangan posisi wakil masih belum terlalu signifikan mendongkrak suara karena elektabilitas Jokowi sebelum berpasangan berada di kisaran antara 50-an (persen) dan Prabowo berada di kisaran 30 persen”, ujar Karyono dalam diskusi bertajuk “Cawapres Ma’ruf Amin, Ahoker’s Dukung Jokowi ?” Di kawasan Cikini, Menteng, Jakarta Pusat, Selasa (21/8/2018).

Dari data survei tersebut jika dibreakdown lanjut Karyono akan terlihat bahwa mayoritas Ahokers masih memilih Jokowi.

Karyono memaparkan, bahwa posisi Jokowi-Ma’ruf untuk sementara masih unggul dari Prabowo-Sandi. Namun tim pemenangan Jokowi perlu waspada karena saat ini kubu Prabowo-Sandi sedang menggempur basis pendukung Jokowi-Ma’ruf.

Bagi Prabowo – Sandi untuk mendulang suara maka harus melakukan strategi politik belah bambu. Antara lain dengan cara menggempur basis pendukung Jokowi – Ma’ruf seperti Nahdlatul Ulama, basis pemilih partai pengusung Jokowi-Ma’ruf, termasuk para Ahokers.

Karyono menilai langkah kubu Prabowo-Sandi menemui sejumlah tokoh seperti Akbar Tanjung, Jusuf Kalla, Said Aqil Siraj dan tokoh Golkar lainnya merupakan manuver politik untuk membelah dukungan partai pengusung Jokowi.

Selain itu, lanjut Karyono, kubu Prabowo-Sandi juga menemui pengurus PBNU di kantor pusat PBNU dengan menawarkan berbagai program kerjasama OK OCE untuk memberdayakan ekonomi pesantren milik warga NU. Di sisi lain, Prabowo juga meminta kartu anggota NU. Hal itu merupakan langkah cerdik kubu Prabowo-Sandi untuk membelah suara NU.

Karyono menilai hal itu bagian dari dinamika politik. Namun demikian walau dalam politik tidak dapat dihindari adanya adu strategi untuk memenangkan kontestasi, tetapi etika dan moral politik tetap harus dikedepankan. Memegang komitmen politik adalah bagian dari etika politik.

Karenanya, partai pengusung dan pihak-pihak yang terlibat dalam pengambilan keputusan dalam mengusung pasangan calon semestinya memegang komitmen dan konsisten untuk mendukung pasangan capres yang diusung.

Misalnya, ketika Jokowi sudah bersedia memilih pasangan yang berasal dari PBNU dan sudah menjadi kesepakatan bersama partai-partai pengusung maka semua pihak harus konsisten, Termasuk Ketua PBNU Pak Said Aqil Siraj.

(rk)

Komentar

News Feed